PEKANBARU, Topriaunews.com - Tak semua kepemimpinan lahir di ruang nyaman. Ada yang tumbuh di jalan berlumpur, di bangunan pinjaman, di sekolah yang bahkan belum punya nama besar. Di sanalah Elmida memilih berdiri—tenang, konsisten, dan penuh keyakinan.
Ketika ia menerima amanah memimpin SMA Negeri 17 Pekanbaru pada 27 Desember 2023, sekolah itu belum ramai. Murid hanya puluhan. Guru-guru muda datang dengan semangat, pulang membawa cerita tentang akses jalan yang sulit dan jarak yang jauh. Banyak yang bertanya dalam hati: mengapa perempuan ini mau bertahan?
Elmida Tahu Betul Jawabannya.
“Kalau negara mempercayakan, maka tugas kita adalah membuktikan,” katanya suatu hari.
Sebagai perempuan, ia memahami betul makna merawat. Dan di sekolah yang baru tumbuh itu, merawat bukan sekadar mengajar—melainkan menguatkan harapan anak-anak dari keluarga sederhana. Anak-anak yang pulang sekolah membantu orang tua. Anak-anak yang tak pernah ikut les, tak punya fasilitas, dan sering kali tak berani bermimpi.
Elmida tak datang membawa janji besar. Ia datang membawa keteladanan.
Ia menyapa guru-guru muda dengan keyakinan: kalian penting. Ia mendekap murid-murid dengan pesan sederhana: kamu mampu. Di sela keterbatasan, ia mengajak semua orang melangkah pelan tapi pasti—menempa karakter, menumbuhkan mental tangguh, dan membuka ruang prestasi.
Hasilnya tak instan. Tapi nyata.
Dari sekolah yang dulu sunyi, murid-murid mulai berdiri di panggung lomba. Ada yang menjadi wakil kota dalam debat. Ada yang masuk jajaran best speaker tingkat provinsi. Ada yang menembus semifinal lomba konstitusi tingkat regional. Prestasi itu mungkin bukan selalu juara pertama, tapi cukup untuk mengubah satu hal paling penting: kepercayaan diri.
Bagi Elmida, kemenangan terbesar bukan piala.
Melainkan ketika seorang anak yang tak pernah naik pesawat akhirnya terbang.
Ketika anak yang takut bermimpi akhirnya berani menyebut kata kuliah.
Ia masih mengingat seorang ibu yang datang menangis, memohon agar anaknya tidak dipaksa melanjutkan pendidikan. “Kami tak mampu,” kata sang ibu. Anak itu pun menangis—ia ingin kuliah. Elmida tak memaksa. Ia menemani. Mencari jalan. Menyusun kemungkinan. Receh demi receh. Bantuan demi bantuan. Hari ini, anak itu kuliah.
“Jangan takut miskin,” pesan Elmida kepada murid-muridnya. “Takutlah jika kita berhenti berusaha.”
Kini, sekolah itu telah berdiri di gedung sendiri. Jumlah murid meningkat. Akreditasi diraih. Angkatan pertama lulus dan membuka pintu ke perguruan tinggi melalui jalur prestasi. Jalan menuju sekolah pun lebih bersahabat.
Namun Elmida tak pernah melupakan masa-masa awal. Saat guru mendorong motor di lumpur. Saat sekolah terasa jauh dari perhatian. Baginya, itulah fondasi karakter—baik bagi guru, maupun murid.
Sebagai perempuan, Elmida membuktikan bahwa kepemimpinan bukan tentang suara paling keras, melainkan tentang keteguhan paling konsisten. Tentang kesediaan hadir di tempat yang tak populer, bertahan di kondisi yang tak mudah, dan memperjuangkan mereka yang nyaris tak terdengar.
Di pinggiran Pekanbaru, seorang perempuan menyalakan pelita kecil.Dan dari pelita itulah, mimpi-mimpi mulai tumbuh.

إرسال تعليق